Confirmation Bias

kenapa kita hanya mencari data yang mendukung keinginan kita untuk belanja

Confirmation Bias
I

Malam sudah larut, mungkin sekitar jam sebelas, dan kita sedang berselancar santai di layar ponsel. Tiba-tiba, algoritma menyodorkan gambar sepasang sepatu lari keluaran terbaru, atau mungkin sebuah gawai pintar yang desainnya begitu menggoda. Di titik ini, kita sebenarnya tahu persis bahwa sepatu lama di rak masih sangat layak pakai. Kita juga tahu bahwa gawai yang kita pegang sekarang masih berfungsi sempurna. Namun, pernahkah teman-teman menyadari betapa cepatnya otak kita berubah peran menjadi seorang pengacara andal? Tiba-tiba, kita mulai mencari-cari alasan logis untuk membenarkan keinginan yang murni emosional tersebut. Kita mengetikkan kata kunci di mesin pencari, tetapi sadarkah kita bahwa kata kunci yang kita ketik bukanlah pertanyaan objektif? Kita tidak mencari tahu apakah barang itu layak dibeli, melainkan kita mencari pembenaran kenapa kita harus membelinya.

II

Mari kita tarik mundur sedikit ke masa lalu, jauh sebelum ada keranjang belanja daring dan diskon tanggal kembar. Otak yang kita gunakan untuk berbelanja hari ini adalah otak yang sama persis dengan yang digunakan nenek moyang kita untuk bertahan hidup di padang sabana puluhan ribu tahun lalu. Pada masa itu, keputusan harus diambil dengan sangat cepat. Jika mereka melihat semak dengan buah beri merah yang tampak lezat, mereka tidak punya waktu untuk membuat analisis pro dan kontra secara mendalam. Otak mereka berevolusi untuk merangkai pola dan mencari informasi yang mendukung keyakinan awal mereka demi efisiensi energi. Mencari bukti yang bertentangan dengan insting awal membutuhkan kalori ekstra, dan di alam liar, kalori adalah nyawa. Sifat bawaan inilah yang terbawa hingga ke era modern. Kita merasa sebagai makhluk rasional yang menimbang data sebelum mengambil keputusan. Padahal faktanya, sebagian besar dari kita mengambil keputusan terlebih dahulu di detik pertama, lalu menggunakan sisa waktu kita untuk mencari data yang mendukung keputusan tersebut.

III

Sekarang, bayangkan kita sedang menonton ulasan barang yang tadi kita incar di YouTube. Di layar, ada deretan video dengan berbagai judul. Ada yang menuliskan "Kelebihan Luar Biasa Produk X", namun ada juga yang memasang peringatan "Jangan Beli Produk X Sebelum Nonton Ini!". Di sinilah sebuah fenomena psikologis yang aneh terjadi. Tangan kita, seolah digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata, hampir selalu mengklik video ulasan yang memuji produk tersebut. Jika pun kita mengklik video yang mengkritik, kita akan dengan cepat mencari celah di kolom komentar untuk menolak argumen sang pengulas. Kita akan membatin, "Ah, dia pakenya salah," atau "Ah, itu kan cuma produk cacat pabrik sesekali." Mengapa kita begitu gigih menolak kebenaran yang tidak sesuai dengan keinginan kita? Apakah kecerdasan kita tiba-tiba menurun saat sedang ingin belanja? Ataukah ada sebuah peretasan biokimiawi yang sedang menguasai ruang kendali di kepala kita?

IV

Inilah dalang di balik semua itu: Confirmation Bias atau bias konfirmasi. Dalam literatur psikologi dan neurosains, ini adalah kecenderungan kuat kita untuk mencari, menafsirkan, mendukung, dan mengingat informasi yang hanya membenarkan keyakinan atau keinginan kita sebelumnya. Saat kita menginginkan sepatu baru namun dompet kita berkata lain, otak kita mengalami apa yang disebut cognitive dissonance—sebuah gesekan mental yang tidak nyaman karena adanya dua realitas yang bertolak belakang. Otak kita sangat membenci rasa tidak nyaman ini. Jadi, untuk meredakan ketegangan tersebut, bagian otak yang bernama prefrontal cortex (pusat logika kita) dibajak oleh sistem limbik yang emosional. Ketika kita membaca ulasan positif tentang sepatu itu, otak kita menyemprotkan dopamine, sebuah senyawa kimia yang memberikan sensasi kepuasan dan kebahagiaan. Setiap kepingan data yang mendukung keinginan kita terasa seperti hadiah kecil bagi otak. Tanpa sadar, kita menyingkirkan semua fakta buruk karena menelan fakta tersebut berarti kita harus memutus aliran dopamine yang sedang kita nikmati. Singkatnya, kita menipu diri kita sendiri, dan secara biologis, kita menikmati proses penipuan tersebut.

V

Jadi, apakah ini berarti kita adalah manusia-manusia impulsif yang tidak punya harapan? Tentu saja tidak. Mengetahui kelemahan sistem kerja otak kita bukanlah alasan untuk merasa bersalah. Ini adalah momen bagi kita untuk menumbuhkan empati pada diri sendiri. Kita tidak bodoh, kita hanya sedang menjadi manusia dengan perangkat keras evolusioner yang terkadang kurang relevan dengan abad ke-21. Kabar baiknya, kesadaran adalah penawar paling ampuh. Teman-teman, besok-besok ketika dorongan belanja itu datang lagi dan jari kita bersiap mengetik ulasan positif, mari kita berhenti sejenak, tarik napas, dan sedikit menantang diri sendiri. Cobalah ketik kata kunci yang berlawanan, seperti "alasan untuk tidak membeli produk ini". Rasakan sedikit ketidaknyamanan yang muncul, terima rasa gatal di pikiran itu, dan izinkan data yang sebenarnya masuk. Pada akhirnya, menjadi cerdas bukan berarti tidak pernah membuat keputusan emosional, melainkan tahu kapan harus tersenyum melihat otak kita sendiri sedang mencoba mencari-cari alasan.